KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL
Tentang: Status Kyai/Guru Ngaji sebagai Mustahik Zakat dalam Kategori Sabilillah
I. Deskripsi Masalah (Tasawwur al-Mas’alah)
Di tengah masyarakat, terdapat tradisi memberikan zakat fitrah maupun zakat mal kepada para tokoh agama seperti Kyai, Ustadz, atau Guru Ngaji. Landasan yang sering digunakan adalah memasukkan mereka ke dalam golongan (asnaf) Fi Sabilillah. Persoalan muncul ketika tokoh agama tersebut secara finansial tergolong mampu (kaya).
Di sisi lain, terdapat kutipan dalam kitab Jawahirul Bukhari yang sering dijadikan rujukan untuk membolehkan hal tersebut, namun keabsahan atribusi kutipan ini serta kesesuaiannya dengan madzhab utama (khususnya Syafi'iyyah) memerlukan peninjauan mendalam.
II. Pertanyaan (As’ilah)
Bolehkah memberikan zakat (khususnya zakat fitrah) kepada Kyai atau Guru Ngaji yang mampu dengan status Fi Sabilillah?
Bagaimana kedudukan teks dalam kitab Jawahirul Bukhari yang memasukkan pengajar agama ke dalam kategori Sabilillah?
III. Jawaban (Al-Jawab)
Pemberian zakat fitrah kepada Kyai atau Guru Ngaji yang mampu (kaya) dengan mengatasnamakan asnaf Fi Sabilillah adalah Tidak Sah menurut pendapat mayoritas ulama (Jumhur) dan pendapat resmi dalam Madzhab Syafi'i.
Fi Sabilillah secara spesifik merujuk pada para pejuang (tentara) yang berperang secara sukarela tanpa gaji dari negara. Adapun Kyai atau Guru Ngaji yang kaya hanya boleh menerima zakat jika mereka memenuhi kriteria asnaf lain (seperti Amil jika ditunjuk resmi, atau Gharimin jika terlilit hutang). Jika mereka dalam kondisi ekonomi sulit, mereka menerima zakat atas nama status Fakir atau Miskin, bukan atas nama kedudukan mereka sebagai guru.
IV. Dasar Pengambilan Hukum (Mawaid al-Nushush)
1. Definisi Muktamad Sabilillah dalam Madzhab Syafi'i:
Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zakaria Al-Anshori dalam Fathul Wahhab:
وَلِسَبِيْلِ اللهِ وَهُوَ غَازٍ مُتَطَوِّعًا بِالْجِهَادِ فَيُعْطَى وَلَوْ غَنِيًّا إعَانَةً لَهُ عَلَى الْغَزْوِ
"Dan (zakat) untuk Sabilillah, yaitu orang yang berperang jihad secara sukarela. Maka ia berhak diberikan zakat walau statusnya kaya, sebagai dukungan baginya dalam berperang." (Fath al-Wahhab, II/34).
2. Batasan Kebutuhan bagi Sabilillah:
Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Minhajul Qowim menegaskan bahwa kekayaan yang dimiliki Sabilillah tidak menghalangi zakat hanya jika uang tersebut digunakan untuk keperluan operasional jihad (perjalanan, senjata, pakaian perang):
وَ الصِّنْفُ السَّابِعُ: "الغُزَاةُ الذُّكُورُ المُتَطَوِّعُونَ" بِالجِهَادِ... فَيُعْطَى كُلٌّ مِنْهُمْ وَإِنْ كَانَ غَنِيًّا كِفَايَتَهُ... ذَهَابًا وَإِيَابًا.
3. Kekhususan Zakat Fitrah dalam Madzhab Maliki:
Dalam Madzhab Maliki, alokasi zakat fitrah bahkan lebih sempit, yakni hanya untuk fakir miskin:
فَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ تُصْرَفُ لِفُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ
"Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah hanya diberikan pada golongan fakir umat muslim." (Bidayah Al-Mujtahid, II/44).
V. Telaah Kritis Terhadap Kitab Jawahirul Bukhari
Terkait kutipan dalam kitab Jawahirul Bukhari (hal. 177) yang memasukkan penuntut ilmu dan mubaligh ke dalam asnaf Sabilillah, perlu dilakukan klarifikasi (tashih) sebagai berikut:
Kekeliruan Atribusi: Keterangan tersebut seringkali dianggap sebagai perkataan Imam Al-Qastalani. Faktanya, Imam Al-Qastalani dalam kitab aslinya, Irsyadu al-Sari, tetap mengikuti definisi standar Madzhab Syafi'i:
( في سبيل الله ) اي الغزاة الذين لا رزق لهم في الفيء
"Fi Sabilillah adalah para tentara perang yang tidak menerima honor dari fai'."
Konteks Kitab: Jawahirul Bukhari adalah ringkasan (mukhtashar) yang disusun oleh Ustadz Mustofa Muhammad ‘Imarah. Penjelasan yang meluaskan makna Sabilillah mencakup guru ngaji ditengarai sebagai catatan kaki atau tambahan dari penyusun (atau editor naskah tertentu seperti cetakan Darul Fikr), bukan teks asli dari kitab hadis atau syarah mu'tabar.
Status Hukum: Pendapat yang meluaskan makna Sabilillah mencakup segala bentuk kebaikan (masalih al-'ammah) termasuk guru ngaji adalah pendapat sebagian kecil ulama (seperti Imam Al-Qaffal), namun bukan pendapat yang mu'tamad (pegangan utama) dalam fatwa zakat di lingkungan Madzhab Syafi'iyyah.
VI. Kesimpulan
Seorang Kyai atau Guru Ngaji yang kaya tidak diperkenankan menerima zakat fitrah atas nama Sabilillah. Masyarakat hendaknya memberikan "tanda terima kasih" atau "bisyaroh" kepada guru ngaji dalam bentuk Sedekah Sunnah atau Hadiah, bukan dari jalur Zakat Wajib, demi menjaga kehati-hatian dalam beribadah (ihtiyat).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar